Cari Blog Ini

Jumat, 28 Agustus 2009

dahsyatnya bahasa al-Qur’an #1 : murid cerdas yang mudah marah

Kisah ini adalah kisah nyata, jadi saya membuatnya tidak dalam rangka mengarang-ngarang cerita. Kisah ini betul-betul saya alami sendiri saat menjadi guru di homeschooling group SD. Sy coba buat berseri, karena banyak hal yang saya alami sendiri saat menyelesaikan persoalan tilmidzaat hsgsd (homeschooling sd) dengan menggunakan pendekatan dalil ayat2 al-qur’an dan hadits…

Sy sendiri di hsgsd mengajarkan tahfidz dan mata pelajaran sains untuk kelas 1, 2, 4 dan 5 SD. Jumlah muridnya sendiri masih sedikit, kelas 4 lima siswa, dan kelas 5 hanya dua siswa. maklumlah...namanya juga homeschooling. Tapi untuk kelas 2, jumlahnya lebih banyak ; 12 siswa, dan di tahun ajaran baru ini jumlah siswa kelas 1 mencapai kuotanya yakni 15 siswa. Hmm, ternyata makin banyak peminat homeschooling....

Nah, alkisah di suatu hari saat saya sedang rehat beberapa saat setelah mengajar sains di kelas 4 di lt.2, ketika saya duduk-duduk di meja guru di kantor kami yang mungil... terdengar suara gaduh dari lt.2...tak lama kemudian menggemalah suara tangis bocah yang padahal sudah kelas 4 sd itu.

Tak lama berselang, si murid tersebut sudah menampakkan batang hidungnya tentu saja dengan tetap meraung-raung menangis. Ada apakah gerangan? saya pun memeluknya dan bertanya mengapa dia menangis sejadi-jadinya. Masih dalam raungannya, dia pun menjawab ”aku di ledek bu...” pendek.

”memangnya masalahnya apa, zan?”

”teman-teman kan tau, saya orangnya emosian, bu... kenapa mereka masih saja membuat saya marah, heuuuu...heuuuu....heuuu...” masih menangis.

Rizan. Ya! Anak baru yang sebelumnya menimba ilmu di sekolah reguler ini memang unik. Dulu, saat dia masih sekolah di SD negeri, dia sering bermasalah. Dengan kondisi emosinya yang sering meledak-ledak, tentulah teman-teman dan lingkungan sekolahnya sering mencapnya sebagai anak yang ’susah di atur’ atau mungkin ’anak nakal’. Padahal tak sepenuhnya benar, sy pikir mereka hanya melihat sosok anak ini dari satu sisi, dan mereka tak mampu melihat sisi istimewa yang lain. Sy sndiri mengenalnya sebagai murid yang sangat brilian, kritis, cerdas berbahasa dan mudah menghapal. Kegemarannya yang sangat menonjol adalah membaca ensiklopedi. Jadilah pengetahuannya melebihi ambang batas teman-teman sekelasnya. Dan bacaannya favoritnya adalah all about fauna. Jadilah dia hapal aneka spesies satwa, sistem pernafasan hewan yang beraneka ragam, habitat hidupnya, cara berkembangbiak, bahkan dia hapal perbedaan dan nama2 spesies dalam satu ordo. Saya pun tercengang dibuatnya!...hanya saja dia tak suka menulis. Menulis adalah hal yang paling menyebalkan baginya.. jika teman-temannya yang cuma 4 orang sibuk menyalin materi dari whiteboard, dia pun sibuk, tapi sibuk menggambar. Ya! Menggambar adalah kegemarannya yang lain, bahkan dia sangat pintar membuat cerita bergambar. Pernah satu ketika dia memperlihatkan cergam bertema ikan buntal kepada saya. Subhanallaah, gambar yang sempurna! Mirip komik betulan.

Hanya saja, jika ’penyakitnya kumat’, alamat rusak kegiatan belajar mengajar... suaranya yang lantang dan keras, pastilah akan mendominasi ruang kelas. Kasian juga liatnya, hmm, kalo bahasanya psikologinya penyakit ADHD kali ya... mudah marah, gampang tersinggung dan sulit mengendalikan diri saat emosinya memuncak.

”ayo ikut ibu...” saya memapahnya kembali ke kelas. Saya tau, biang masalahnya ada di kelas.

”siapa yang sedang ada masalah dengan Rizan? Ayo Ishlah!” Rizan pun menghentikan tangisnya.

Dan saya pun melihat ada wajah yang sedang tertekuk, sebut saja namanya Izzuddin.

”Innamal mu’minuuna ikhwah...sesungguhnya sesama mukin itu bersaudara, kata Allah lhoo...” saya mulai mengeluarkan jurus jitu; berdalil.

”Ayo, bermaafan!”

”Siapa saja yang memaafkan lebih dulu, dia lebih mulia di sisi Allah”

Tanpa disangka, Rizan lah yang terlebih dulu mengulurkan tangan dan mendekat pada Izzuddin, tanpa memerlukan waktu yang lama, mereka pun bersalaman.

”ayo pelukan, ucapkan permohonan maafnya!” saya sedikit membuat permintaan.

Tak disangka, mereka pun kembali melakukannya.

”Subhanallah... generasi dambaan Rasulullah nih, mudah-mudahan perselisihannya tidak terulang ya... lain kali Rizan tidak boleh emosional ya!...ini kata Rasulullah lho zan, ”laa taghdhob!” janganlah kamu marah-marah!”

Dan saya pun bertashbih!... subhanallah... rizan, yang sangat kami kenal sulit sekali terkondisi saat sedang marah, dengan mudahnya mengendalikan emosinya, setelah diingatkan dengan bahasa dalil... subhanallah...subhanallah!

Tidak ada komentar: