Cari Blog Ini

Senin, 19 Juli 2010

MENJADIKAN RAMADHAN LEBIH BERMAKNA UNTUK KELUARGA

MENJADIKAN RAMADHAN LEBIH BERMAKNA UNTUK KELUARGA
Yuli Kusumadewi Darmadi*


Ramadhan tinggal menunggu hari. Setiap keluarga Muslim pasti merasa bahagia ketika menyambutnya, karena Ramadhan adalah bulan yang mulia, bulan sabar, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan taubat, bulan lailatul qodar dan bulan pembebasan dari api neraka. Rasulullah Saw bersabda, ketika beliau memberi kabar para sahabatnya tentang datangnya bulan Ramadhan: "Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan, seluruh setan dibelenggu dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu surga dibuka, hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam, datang seorang yang menyeru: "Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah, wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah-lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka" (HR.Tirmidzi).
Ramadhan juga bulan taqwa. Didalamnya, hamba Allah Swt yang beriman diberi ujian olehNya. Barangsiapa lulus dari ujianNya, maka ia akan meraih derajat taqwa (QS.Al-Baqarah:183). Untuk itulah, keluarga muslim hendaknya mampu mengisi kemuliaan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Agar Ramadhan menjadi lebih bermakna; seluruh anggota keluarga merasakan nikmatnya ibadah di bulan penuh keberkahan, serta merasakan lezatnya iman sebagai buah dari ketaatan. Sehingga di akhir Ramadhan, derajat taqwa didapatkan. Berikut adalah beberapa kiat agar Ramadhan kali ini menjadi lebih bermakna.
Pertama, tarhib atau menyambut Ramadhan. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan adalah :
1. Lebih menggiatkan ibadah sebelum datang bulan Ramadhan. Yaitu dengan mendorong diri dan keluarga untuk memaksimalkan aktivitas yang wajib. Misalnya dengan berusaha sholat tepat waktu, berdakwah lebih giat, bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah, dan sebagainya. Juga lebih memaksimalkan penunaian ibadah-ibadah nafilah, seperti menambah frekuensi shaum dan sholat sunnah, tilawah, tahfidz, qiyamullail, shodaqoh, dan sebagainya. Rasulullah Saw adalah sebaik-baik panutan. Beliau Saw, ketika memasuki bulan Sya’ban, menambah kualitas dan kuantitas amal shalihnya. Didalam sebuah riwayat, Usamah bin Zaid pernah berkata kepada Rasulullah Saw: "Wahai Rasulullah! saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada, seperti puasamu di bulan Sya'ban”. Rasul Bersabda: "Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang didalamnya diangkat semua amal kepada Rabbul’alamin. Saya suka diangkat amalan, sedang saya dalam keadaan berpuasa" (HR. Imam Nasa’i). Maka, ajaklah seluruh anggota keluarga untuk lebih giat lagi beribadah menjelang bulan Ramadhan tiba, terutama di bulan Sya’ban ini.
2. Bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata "Rasulullah Saw bersumpah, tidak ada bulan yang paling baik bagi orang beriman kecuali bulan Ramadhan, dan tidak ada bulan yang paling buruk bagi orang munafik kecuali bulan Ramadhan, dikarenakan pada bulan itu orang beriman telah menyiapkan diri untuk berkonsentrasi dalam beribadah, sebaliknya orang munafik sudah bersiap diri untuk menggoda dan melalaikan orang beriman dari beribadah" (HR. Imam Ahmad). Dari hadits tersebut jelaslah, bahwa orang-orang yang beriman akan menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan penuh keceriaan dan hati yang lapang. Ekspresikanlah kegembiraan menyambut Ramadhan dengan membuat suasana baru yang lebih istimewa di tengah-tengah keluarga. Menghias rumah dengan dekorasi khas Ramadhan akan sangat menyenangkan. Membuat tulisan berisi motivasi atau menempelkan program dan komitmen anggota keluarga, juga hal yang bisa dilakukan. Buatlah perencanaan yang matang, apa saja aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan oleh seluruh anggota keluarga untuk mengisi bulan Ramadhan. Jangan lupa untuk melibatkan mereka dalam proses penyiapannya. Beri nuansa yang berbeda yang menunjukkan bahwa keluarga kita siap menyambut dan mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Dengan semua kegiatan ini, diharapkan seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak akan bersemangat, dan gembira menyambut bulan suci ini.
3. Memotivasi dan memberikan pemahaman tentang ibadah dan keutamaan Ramadhan. Shaum Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk shaum di bulan mulia ini menjadi kewajiban integral bagi setiap orangtua muslim. Para sahabat Rasul Saw telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk melaksanakan shaum. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwiz ra tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anaknya dalam berpuasa: “…dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Bukhari Muslim). Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui, bahwa para sahabat memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka beribadah shaum. Pengkondisian ini, dapat dilakukan dengan cara mengingatkan kembali dalil-dalil yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, keutamaan-keutamaannya, dan janji-janji Allah berupa balasan bagi mereka yang mengisi bulan yang mulia ini dengan sebaik-baiknya. Berikanlah motivasi ruhiyah kepada anak-anak, agar tumbuh niat yang kuat dan benar pada diri mereka untuk shaum di bulan Ramadhan.
4. Mempersiapkan segala sesuatu hal untuk kelancaran dan kekhusyuan ibadah Ramadhan. Yaitu dengan mempersiapkan kondisi kesehatan (fisik) seluruh anggota keluarga, agar ibadah di bulan Ramadhan dapat dilaksanakan dengan optimal. Selain kesehatan fisik, bekal untuk bulan Ramadhan juga perlu dipersiapkan sebelumnya. Jangan sampai saat bulan suci tiba, keluarga tersibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang sesungguhnya mengurangi kekhusyuan ibadah Ramadhan, misalnya berbelanja menghabiskan waktu dan sibuk mempersiapkan keperluan-keperluan Idul Fitri. Ramadhan adalah saat dimana setiap kita berjuang dan berlomba mendapatkan kebaikan yang berlipat. Untuk itu, ada baiknya, keperluan untuk bulan Ramadhan –termasuk Idul Fitri (jika ada)- disiapkan sejak sebelum datang bulan Ramadhan.
5. Saling memaafkan antara anggota keluarga, juga kerabat, tetangga dan teman. Hal ini merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Agar saat memasuki Ramadhan, dosa kita dengan sesama manusia sudah terhapus. Sehingga pada bulan Ramadhan, kita tinggal menyelesaikan dosa kita kepada Allah Swt. Harapannya, ketika Ramadhan berakhir dan tiba hari raya Idul Fitri, kita benar-benar berada dalam keadaan suci kembali. Insya Allah.
Kedua, Ihya atau menghidupkan Ramadhan dengan berbagai aktivitas yang dapat mendekatkan diri dan keluarga kepada Allah. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak seluruh anggota keluarga untuk mengisi dan berperan dalam meramaikan syiar Ramadhan, seperti :
1. Program keluarga bersama al-Qur’an. Bisa dengan membuat komitmen minimal satu jam bersama al-Qur’an setiap hari. Upayakan seluruh anggota keluarga meluangkan minimal 1 jam/hari untuk tilawah atau tahfidz al-Qur’an. Misalnya, setiap ba’da sholat subuh hingga waktu syuruq tiba, atau 1 jam sebelum berbuka. Untuk keluarga yang masih memiliki anak-anak usia balita, libatkanlah mereka dalam kegiatan ini, agar mereka terkondisikan berinteraksi dengan al-Qur’an sejak dini.
2. Program sholat berjama’ah. Dengan menetapkan komitmen agar anggota keluarga laki-laki sebisa mungkin melaksanakan sholat fardhu dan tarawih berjama’ah di masjid/mushola. Sementara itu, anggota keluarga perempuan sholat berjama’ah di rumah. Atau program seluruh anggota keluarga melaksanakan sholat tarawih berjamaah di masjid.
3. Program memberi ifthor, memberi makanan untuk orang-orang yang berbuka, dengan melibatkan anak-anak untuk mengantarkan makanan ke masjid.
4. Program shodaqoh. Setiap anggota keluarga, berkomitmen dalam hal shodaqoh, lalu dikumpulkan setiap harinya (dapat dilakukan dengan menyiapkan kotak amal khusus di rumah misalnya), dan menjelang 10 hari terakhir, perolehannya dihitung untuk kemudian dibagikan bersama-sama kepada kaum dhu’afa.
5. Program meninggalkan hal yang sia-sia. Seluruh anggota keluarga berkomitmen untuk mereduksi perbuatan yang sia-sia, misalnya menonton acara tv yang tidak berguna, mendengarkan lagu-lagu, dan lain-lain. Manfaatkanlah waktu untuk kegiatan-kegiatan yang jauh lebih bermanfaat dan mendatangkan pahala.
6. Program giat dakwah. Misalnya dengan lebih menggiatkan kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar. Tadarus dan kajian keislaman bersama para tetangga di masjid/mushola atau mungkin dari rumah ke rumah, merupakan langkah yang baik. Libatkanlah anak-anak kita dalam aktifitas dakwah yang kita lakukan, agar mereka merasakan ruh perjuangan sejak dini. Kegiatan ini pun akan menjadi contoh teladan bagi anak-anak kita kelak.
7. Program pesantren Ramadhan. Membuat atau mengikutsertakan anak-anak kita dalam program pesantren Ramadhan di masjid/mushola terdekat, di sekolah atau bahkan di pondok pesantren.
8. Program sahur dan berbuka di rumah, agar terwujud kebersamaan diantara anggota keluarga. Nikmati kegembiraan saat sahur dan berbuka, kondisikan rumah selalu gembira dan khidmat. Manfaatkan waktu menjelang berbuka dengan banyak-banyak berdzikir, berdo’a, membaca al-Qur’an atau menyimak taushiyah.
9. Program buka shaum rekreatif. Misalnya sesekali berbuka sambil melakukan tadabbur alam, atau safari dari masjid ke masjid, atau sambil bersilaturahmi. Bisa juga merancang kegiatan berbuka shaum bersama kaum dhu’afa di panti asuhan, di tempat penampungan sambil bershodaqoh.
10. Program Itikaf bersama keluarga, di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Anggota keluarga harus termotivasi untuk memperbanyak ibadah pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan, terutama di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Karena diantara malam-malamnya, Allah Swt menurunkan kemuliaan lailatul qodar.
11. Program reward, khususnya untuk putra dan putri tercinta yang baru berlatih shaum. Selain dengan pujian, memberikan hadiah sebagai rangsangan juga diperlukan. Berikanlah apresiasi saat anak-anak dengan penuh kesungguhan menjalankan ibadah shaum penuh hingga waktu berbuka. Reward-nya bisa dengan menyiapkan makanan kesukaannya, atau memberikan barang yang disukainya.
Ketiga, ba’da Ramadhan, yakni menindaklanjuti aktivitas Ramadhan sehingga Ramadhan tidak berakhir begitu saja tanpa sesuatu yang berarti. Agar suasana Ramadhan tetap terjaga di bulan-bulan berikutnya, maka suasana dan semangat ibadah harus terus dipelihara. Aktivitas yang bisa dilakukan selepas Ramadhan bersama keluarga, antara lain adalah:
1. Menjaga kebersamaan antar anggota keluarga, dengan cara menghidupkan suasana fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan), membiasakan saling menasehati dalam kebenaran, bekerjasama dan saling tolong menolong dalam beramal shalih.
2. Membiasakan shalat berjamaah di masjid, khususnya untuk anggota keluarga laki-laki. Dengan hal ini, maka hati akan selalu terpaut ke masjid.
3. Membiasakan shaum sunnah. Baik itu shaum sunnah senin-kamis, shaum selang sehari (shaum Daud), shaum 3 hari di pertengahan bulan hijriyah, dan lain-lain.
4. Membiasakan shalat malam.
5. Membiasakan bershodaqoh.
6. Senantiasa berinteraksi dengan al-Quran, yaitu dengan lebih giat membaca, menghapal, memahami, mengamalkan dan mendakwahkannya.
7. Membiasakan silaturahmi.
8. Melanjutkan semangat syiar Ramadhan dengan berdakwah lebih gencar, untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin, dengan tegaknya syari’ah dan khilafah.
Demikianlah, beberapa kiat yang dapat dilakukan, agar Ramadhan menjadi lebih bermakna untuk diri dan keluarga. Wallâhu a’lam


*Penulis adalah ibu rumah tangga dan pengajar tahfidz, bertempat tinggal di Bogor.

Tidak ada komentar: