Pada saatnya, kami pun menaiki pesawat Saudi Arabia Airlines. Dan akhirnya, sekitar pukul 11.30 WIB pesawat yang kami tumpangi pun take off, membawa kami terbang meninggalkan Indonesia... Ilalliqo Indonesia...!!
Pukul 11.30 WIB pesawat bergerak pelan tapi pasti bersiap meninggalkan bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Hari sudah terik, kami –para jamaah calon haji- yang sudah bersiap, mulai hening... setiap jiwa rupanya sibuk memokuskan pikirannya kepada Sang Maha. Berdo’a, memohon keselamatan, pasrah dan tawakkal atas semua yang ditinggalkan.
Diantara gemuruh suara mesin pesawat yang bising, saya mendengar suara isak yang tertahan. Saya pun demikian. Terasa berat rasanya saat harus meninggalkan keluarga tercinta. Anak-anak yang masih kecil, yang semalam kemarin saya tinggalkan saat mereka lelap tertidur, karena saya meninggalkan rumah dini hari... Ya Allah, jagalah mereka... Tapi apa daya, kerinduan menjejakkan kaki di Baitullah telah mengalahkan segalanya. Bismillahi tawakkaltu ’alaLlaah! Tak lama, pesawatpun berbelok, lalu kencang berlari... semakin kencang dan... hiuppp! Naik ke udara...
Perlahan wajah jakarta menghilang dari pandangan, diantara tumpukan awan putih yang lembut. Kini yang terlihat adalah pulau-pulau kecil di tengah lautan yang luas membiru, cantik seperti Nazara viridula (kepik hijau) yang berenang tenang di atas kolam. Namun lambat laun, pulau-pulau bak kepik itu pun menghilang. Hanya awan yang berarakan yang terlihat mengiringi perjalanan.
Waktu di jam tangan saya, menunjukkan pukul 14.00 WIB. Sinar di luar jendela cukup terik, namun layar LCD di kabin pesawat menginformasikan temperatur di luar pesawat mencapai -38 derajat celcius. Luar biasa... saya melongok kembali ke arah jendela pesawat, kini terlihat riak-riak air yang berkilauan diterpa sinar matahari yang garang. Kilauannya seperti intan permata, indah sekali.
Dari pengeras suara lalu terdengar sang pramugari memberikan maklumat, agar jendela pesawat ditutup rapat, mengingat terik yang cukup menyilaukan mata. Ia pun menyarankan para jamaah untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beristirahat. Para jamaah yang saat itu telah menyantap makan siang, lalu beristirahat.
Waktu di jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, namun di pesawat penunjuk waktu menerakan masih pukul 16.00. Ditanah air sudah lewat isya, tapi disini matahari seolah masih enggan beranjak. Sejujurnya, berjam-jam menempuh perjalanan diatas pesawat, seperti berjalan menuju matahari. Dari kejauahan, saya masih sempatkan membuka jendela pesawat perlahan. Teriknya yang menyilaukan membuat sayap pesawat mengkilat saat terpapar sang surya.
Saat itu, terdengar pengumuman agar seluruh jama’ah haji bersiap melaksanakan ihlal umroh karena tak lama lagi pesawat akan melewati miqot makani. Dan kami pun bersiap-siap untuk ihlal umroh, sebagai niat melaksanakan umrah...”labbaikallaahumma umratan...” dan bertalbiyah....
Hati pun bergemuruh hebat, walhasil airmata tak terbendung, tertumpah,...ingat akan segala dosa dan kekhilafan.
Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu... Wahai Dzat terkasih, hamba datang dengan penuh kefakiran...sampaikanlah hamba ke RumahMu yang Mulia... Allahumma ballighnaa... Allahumma ballighnaa... Allahumma ballighnaa...!
Menempuh perjalanan diatas pesawat. Alhamdulillah, kami tak kekurangan makanan. Saat take off pukul 11.30 siang, jama’ah disuguhi makan ”pagi” (katanya) dengan menu ; nasi-pecel-ayam, ditambah capcay, krupuk udang, jeruk, roti, permen, segelas kecil air mineral dan secangkir teh manis hangat.... makan ”siang” disajikan kembali pukul 20.00 waktu jam tangan saya (yang berarti WIB), atau jam 4 sore waktu jeddah, beberapa saat sebelum landing. Menunya ; nasi, pakcoy, ayam, teri kacang, krupuk, pisang, roti, segelas kecil air mineral dan secangkir teh panas.
Jam di tangan saya menunjukkan pukul 21.30. Artinya di Indonesia hari sudah merangkak menuju malam buta. Namun jeddah masih terang, semburat jingga masih menghias langit, hari masih sore. 9 jam 40 menit kami mengawang di angkasa. Tak lama pesawat pun landing. Alhamdulillah...
Keribetan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah
Setelah bergegas masuk ke bandara King Abdul ’Aziz, adzan maghrib pun lamat laun terdengar. Saya melirik ke arah jam dinding yang menempel di waiting room, pukul 17.45 waktu jeddah. Segera saja saya kalibrasi jarum jam di tangan. Agar saya tak pusing mengkonversikan waktu melulu. Beberapa jamaah sibuk menghubungi sanak keluarga di tanah air, mengabarkan bahwa kami telah sampai dengan selamat di bandara Jeddah. Ada yang terisak sambil menelpon, ada yang sumringah tersenyum sambil menanyakan keluarga yang sudah 2 x 24 jam ditinggalkannya. Namun saya memilih untuk bergegas ke kamar mandi, bersuci dan mengambil air wudhu. Setelahnya, saya sempatkan sholat jama’ taqdim maghrib dan isya di selasar ruang tunggu bandara. Menurut informasi, perjalanan menuju maktab di Makkah cukup jauh, belum lagi sebelumnya jamaah harus melewati pos-pos pemeriksaan di bandara Jeddah, sebelum akhirnya diangkut menuju ke Makkah.
Pffh, perjuangan memang butuh pengorbanan.
Dan benarlah, tak lama seusai menunaikan sholat, riuh gaduh jamaah tak terelakkan. Petugas bandara, memerintahkan para ketua rombongan untuk segera membimbing jamaahnya menuju ke pos-pos pemeriksaan. Kegaduhan terjadi, karena sebagian jamaah ada yang masih ’terkungkung’ di kamar mandi, sebagian lagi sedang khusyuk menjalankan sholat dan sebagian kecil kehilangan jejak, tak nampak batang hidungnya. Besar kemungkinan tengah melakukan refreshing, berjalan-jalan di sekitar sekedar menghilangkan kepenatan. Kondisi ini berkonsekuensi pada keterceraiberaian anggota regu dan rombongan.
Karena petugas bandara langsung meminta jamaah yang telah siap untuk mengantre tanpa harus menunggu rekan-rekan regu atau rombongannya. Walhasil, kami pun tak bisa menunggui jamaah yang lain yang saat itu tidak ada di tempat.
Saat kami sudah selesai menunaikan kewajiban kami sebagai visitor, di periksa macam-macam; di geledah, berebutan mencari koper, mengantre panjang dan sesak demi tiket bis menuju maktab, saat semua berkumpul di mulut pintu exit bandara bersiap-siap menuju Makkah, kami kehilangan satu sosok lelaki tua yang lucu dan disayangi semua jamaah rombongan kami: Engkong!.
Kepanikan kembali terjadi. Masalahnya, kami tak mungkin melanjutkan perjalanan menuju Makkah tanpa Engkong!. Wajah ketua regu yang bertanggung jawab atas diri Engkong pucat pasi. Demikian halnya dengan ketua rombongan. Beberapa jamaah ibu yang memiliki kedekatan psikologis dengan Engkong mengaduh, terbias wajah penuh kesedihan yang diliputi seribu kekhawatiran. Engkong, kemana engkau gerangan?... pertanyaan itu terulang terus tak bosan-bosan. Sebagian menenangkan dan memberi saran untuk banyak-banyak memanjatkan do’a kepada Yang Maha Rahman. Bukankah Allah mengabulkan hambanya yang berdo’a saat dalam perjalanan. Apalagi yang sedang dilakukan bukanlah perjalanan sembarangan.
Para jamaah bapak-bapak, berusaha flashback, mengingat-ingat bagaimana kejadian terakhir sebelum akhirnya kami dan engkong terpisah. Masing-masing memutar otak dan kembali mengingat segmen-segmen kejadian yang dialami saat menjalankan pemeriksaan yang aduhai ribetnya bukan kepalang. Kadang saya tak habis akal, mengapa kami harus diperiksa sedemikian ketat, bukankah kami datang dengan damai? Untuk menjalankan misi mulia, dalam rangka memenuhi panggilanNya dan menjadi tamuNya?... apalah arti sebuah gunting kuku, peniti, cutter atau gunting kecil yang kami bawa dari tanah air? Toh, kami membawanya bukan untuk melakukan tindak kriminal, tapi demi sebuah efisiensi dan efektifitas ketika kami menjalankan hari-hari di negeri yang sama sekali baru kami injaki. Supaya kami tidak susah payah saat harus tahallul, saat butuh barang-barang itu untuk menjepit jemuran, memotong apel, dll. Dan yang paling logis adalah supaya kami tak susah payah mencari dan merogoh kocek membeli peniti dan gunting kuku yang harganya serba 2 real itu. Bukankah apa yang kami lakukan adalah bagian dari penghematan dan jauh lebih efisien ketimbang harus ada pos pengeluaran lagi dari living cost kami?
Kembali lagi tentang Engkong. Entahlah, mengapa kami memanggilnya dengan sebutan Engkong, padahal beliau bukanlah kakek betawi, tapi seorang kakek tua asal Cianjur yang memiliki ketahanan fisik luar biasa. Usianya sudah menginjak kepala delapan, 82 tahun tepatnya. Kekuatan fisiknya yang luar biasa memang tak sebanding dengan daya ingatnya. Itulah mengapa, ia sering lupa tentang nama, tanggal, hari, lokasi kamar dan hal-hal kecil lainnya. Juga linglung jika berada di keramaian, akibatnya potensi tersesat besar sekali. Hal itu lah yang dialami sang Engkong-ku yang malang, di tengah keramaian kedatangan jamaah haji di Bandara King Abdul Aziz pukul 8.30 malam tanggal 12 november 2009 itu...
Saya masih melihat keletihan yang amat membaluti tubuh hampir semua jamaah, sebagaimana juga yang saya alami. Kepala pening, lutut dan kaki terasa berat dan ngilu karena menumpu tubuh berjam-jam. Sebagian terlihat berselonjor di lantai seadanya diantara tumpukan tas tentengan dan barang bawaan berisi bekal yang terlihat amburadul karena tak cukup menampung aneka barang yang kebetulan juga banyak dibagi gratis di bandara. Ada payung beraneka merek perusahaan selular Arab, tas, snack, dan lain-lain. Sibuk sekali kami dibuatnya, belumlah dengan paspor yang berantakan bekas pemeriksaan. Momen menunggu engkong inilah yang digunakan juga untuk bebenah alakadarnya. Sambil komat-kamit menggumamkankan do’a kepada Allah Sang Maha Kuasa, supaya membimbing langkah Engkong kearah kami yang setia menantinya... atau menunjuki para pencari Engkong.
”Ah Ya Allah, tidak sulit bagi Engkau mengatur jutaan bintang, planet, bumi dan seisinya... maka tentu tak sulit pula Engkau mengatur gerakan kaki Engkong agar melangkah menuju kesini...maka berikanlah kami petunjuk untuk menemukan engkong, pertemukanlah kami ya Allah...!” saya pun terus bergumam dalam hati.
Entah bagaimana ceritanya, tak lama berselang Engkong pun ’ditemukan’. Sorak sorai pun membahana, luapan kegembiraan dan keharuan bertabur gemuruh dzikir tak henti-henti keluar dari mulut para jamaah –termasuk saya-. SubhanaLlah wa AlhamduliLlah wa laa ilaaha illa Allaah, laa haulaa wa laa quwwata illaa biLlaah... ya Hayyu yaa Qayyum... Ya Mujiibass Saa-iliiin... Allahu Akbar!!! Senangnya ketemu Engkong lagi... J
Kurang lebih pukul 21 waktu Jeddah kami prepare menuju Bis. Kelelahan yang dirasa tak sanggup menutupi kegembiraan yang sangat, karena dalam waktu yang tidak lama lagi kami akan menginjakkan kaki di negeri para nabi, negeri tertua yang menyimpan kenangan tak terlupakan tentang perjuangan, dialah Ummul Qura, Makkah Al-Mukarramah!...
Untuk saya yang kali pertamanya bertandang ke negeri ini, tentulah ini adalah pengalaman yang sejak dulu sangat saya rindukan siang dan malam. Seperti rindunya Sang Pemimpi pemuda kampung bernama Ikal untuk menggali ilmu di gempitanya kota bernama Paris!... (hahay, saya baru saja sempat menuntaskan membaca tetralogi Laskar Pelangi... ;p)
Sambil menunggui bis bergerak, saya mengingat segala hal yang saya alami 2 hari yang lalu, 2 minggu yang lalu, 2 bulan yang lalu, 2 tahun yang lalu...”Ya Allah, betapa kerinduan ke Baitullah harus dibayar dengan pengorbanan dan ujian bertubi. Hamba yakin, dibalik semua peristiwa pastilah ada pelajaran yang sedang Engkau berikan”... di Bis saya bergumam sendiri, mengingat-ingat kembali kejadian demi kejadian yang tak bisa lepas dari ingatan. Tentang perjalanan hidup, tentang kegagalan, tentang perjuangan yang penuh onak dan duri, tentang keluarga kecil dan besar, tentang anak-anak yang masih kecil, tentang tetangga yang rupa-rupa warnanya, tentang homeschooling yang dirintis yang menyimpan kengiluan, tentang orang-orang di sekeliling yang simpati dan antipati, tentang anak-anak hebat yang belajar tahfidz, dan tentang-tentang lainnya yang menggasing di otak. Pusiing sekali. Mungkin itulah klimaks kelelahan saya, hingga akhirnya saat bis mulai bergerak, berbekal minyak kayu putih Sidola idola saya yang saya gosokkan ke pelipis dan leher, saya pun mengakhiri kepenatan hari itu dengan membaca do’a ”Bismika Allaahumma ahyaa wa amuut”, hoaaaemm... Zzzz, dan saya tertidur pulas.
Mid Night di Maktab
Pukul 00.00 waktu Makkah kami tiba. Dua jam menempuh perjalanan Jeddah-Makkah sungguh tak terasa, karena sepanjang perjalanan saya tertidur pulas. Momentum yang jarang terjadi pada seorang saya. Pernah saya menempu perjalanan malam Yogyakarta-Bandung semalaman menggunakan kereta api ekonomi, tak sedetik pun saya bisa memejamkan mata, padahal keesokan harinya saya harus mengikuti ujian mata kuliah Embriologi. Hari minggu itu sepanjang pagi hingga siang saya mengikuti konferensi muslimah di Yogya, dan siangnya saya menjelajahi kota gudeg itu mencari alamat sahabat saya di pesantren saat Tsanawiyah dulu. Berbekal alamat di secarik kertas dan ’petunjuk’ dari mimpi saya terseok mencari rumahnya di pinggiran kota Sleman (Hai Al, akhirnya mimpiku berbuah kenyataan, aku menemukan rumahmu!). Walhasil, tubuh pun lelah bukan kepalang. Tapi malam itu mata saya tak bisa terpejam, entahlah. Mungkin saya memang tipikal orang yang tidak bisa tidur saat berkendara.
Tapi kali itu, saya betul-betul berada dalam kondisi yang tak bisa ditoleransi lagi. Ya, saya tidur nyenyak seperti bayi sehabis mandi dengan wangi minyak telon, he. Walhasil, saya tak sedikit pun menikmati pemandangan gurun pasir dibawah langit malam.
Sesaat setelah bis berhenti, terdengar suara ribut dan bising, saat itulah saya sontak terbangun. Rupanya sudah sampai. Saya pun mengelap peluh dengan tissu alakadarnya. Maklum bau keringat sudah mendekati akut. Bagaimana tidak, sejak berangkat jam 6 pagi dari asrama haji, Bekasi hingga jam 00.00 waktu Makkah (yang berarti jam 4 pagi WIB), kami tak sedikitpun punya kesempatan mandi, atau mengganti pakaian, boro-boro.
Maktab yang kami tempati berada di area ring 1. Katanya ring 1 termasuk area yang paling dekat dengan masjidil Harom. Meski jarak hotel dengan masjidil harom +1,5 km. Ada banyak maktab dibuat, dan kami kloter 57 masuk maktab 50, sektor 9. Hotel yang ditinggali jamaah Indonesia memiliki nomor sesuai dengan sektor dimana kami tinggal, dan biasa disebut Rumah Indonesia. Rumah yang kami tempati adalah rumah 933 di Jalan Al-Manshur (Syari Manshur) Hayyu (distrik) Az-Zahrah, sekitar 500 meter dari Hafair. Di sekitar rumah 933 ada pemondokan jamaah haji asal Afrika dan Turki, juga beberapa rumah Indonesia lainnya. Disamping kiri rumah, persis dekat jalan raya terdapat peternakan ayam, yang jika saya melewatinya serasa melewati peternakan ayam Cipagalo, di kampung saya. Syari Manshur termasuk jalan utama di Makkah, jalannya cukup lebar, dua arah yang dipisahkan sebuah median yang panjang. Saya menganalogkannya dengan jalan raya Pasteur Bandung, yang di kanan kirinya terdapat perkantoran dan toko-toko besar tapi sepi pembeli. Berbeda dengan kawasan Hafair, yang dikanan-kirinya penuh dengan hotel berbintang dan toko aneka oleh-oleh dan pakaian. Atau jalan Sulaimaniyah, yang jika telah melewati pekuburan Ma’la, terdapat toko grosiran ramai pengunjung mirip pasar baru Bandung.
Di seberang jalan, terdapat SPBU yang dalam bahasa arabnya sulit sekali saya baca. Lalu ada cafe mini yang menjual donat, kopi dan minuman dingin yang harganya paling murah 6 RS. Akses menuju warung (biqolah), warung ’nasi’ yang menjual ayam bakar khas Arab, aneka roti yang menjadi makanan pokok bangsa Arab cukup dekat. Saya bahkan memfavoritkan ayam bakar yang harganya 12 real itu! Uennakk tenan.
Andaikan Pak Bondan –sang Raja Wisata Kuliner- mencicipinya, barangkali juga akan mengatakan ”maknyuusss!” sambil mengacungkan jempol.
Rumah 933 juga dekat dengan masjid Bin Hasan, sebuah masjid kecil namun cukup dikenal oleh warga sekitar masjidil Harom dan supir-supir taksi disana.
Rumah yang kami tinggali sekelas hotel melati. Terdiri dari 5 lantai plus jemuran. Di setiap lantainya terdapat kurang lebih 20 kamar dengan kapasitas penghuni bervariasi; 3-8 orang. Disetiap kamarnya terdapat 1 buah kipas angin baling-baling yang menempel di langit-langit kamar, 1 buah AC (yang bersuara mengaum jika dinyalakan, hehe), seperangkat alat tidur (kasur, dipan besi, sprey, bantal (dan sarungnya) dan satu buah selimut tebal, semuanya serba putih), jika beruntung ada kamar dengan toilet di dalamnya... Setiap lantai disusun menjadi 4 ruangan besar, setiap ruangan besar memuat 5 kamar, 3 kamar mandi, 1 dapur dan ruangan besar yang multifungsi (dapat digunakan untuk pertemuan besar, makan antara pasutri, atau sholat malam). Di dapur ada fasilitas kompor listrik, dispenser, mesin cuci dan tempat untuk mencuci piring. Selain tangga, untuk menuju lantai atas, kami dapat menggunakan lift yang berjumlah 2 unit. Rumah kami ditunggui oleh 4 orang asal Bangladesh, 2 orang diantaranya cukup kami kenal karena sering membersihkan lantai 4 yang kami tinggali, Sam dan Munir namanya.
Setiap hari, ada bis taraddudi yang siap mengangkut jamaah Indonesia sektor 9 berangkat ke/pulang dari masjidil Harom. Bis itu mengangkut jamaah 5 kali sehari, satu jam sebelum waktu sholat, bahkan dalam satu kali waktu shalat bisa beberapa rit, tergantung banyaknya jumlah jamaah yang hendak menunaikan shalat wajib di masjidil Harom. Bis taraddudi memang menjadi hak bagi jamaah haji agar tidak payah menempuh perjalanan yang lumayan jauh menuju/dari masjidil Harom.
Love at The First Sight
Hari Jum’at (13/11/2009) Pukul 2 dini hari waktu Makkah, setelah cape mengangkut koper-koper yang ukurannya sebesar adubamplak ke lantai 4, lalu beres-beres sekenanya dan merebahkan badan sejenak di kasur yang lumayan empuk, kami pun beranjak dari peraduan, berangkat menuju salah satu tujuan perjalanan kami; Masjidil Harom! Haaii… ketemu ka’bah!! Untuk Umroh.
Saya dan jamaah muslimah lain yang berangkat malam itu, tidak sempat mandi dan berganti pakaian. Selain alasan efisiensi waktu, kami juga memperhitungkan kondisi badan. Meski air jernih bersih di kamar mandi sangat menggoda kami untuk membersihkan diri. Tapi No Way! Pikir kami, daripada masuk angin, wios bedo... hehe.
Kalo bapak-bapak sih, jangan ditanya. Sejak dari asrama haji mereka sudah mengenakan baju ihrom. Dan baju itu WAJIB mereka kenakan hingga tahallul. Urusan mandi sih memang dibolehkan. Tapi tidak sedikit juga yang memilih menyimpan keinginannya untuk mandi dengan alasan yang sama; khawatir masuk angin.
Ohya, ada yang terlewat, sebetulnya rencana keberangkatan pukul 2 dini hari itu awalnya khusus untuk kalangan bapak-bapak, dengan tujuan survey sekalian umroh, atau umroh sekalian survey ya? Pokoknya mah gitu deh. Tapi karena rencana ini bocor, karena emang ga dirahasiakan juga sih, akhirnya banyak dari kalangan ibu-ibu yang berminat juga menjadi tim surveyor yang sekaligus melakukan umroh, hehe. Saya termasuk salah satunya.
Suami memang sempat memberitahukan perihal keberangkatan tersebut, bahkan sempat menawarkan apakah saya ikut atau istirahat saja, karena badan yang letih luar biasa, saya memilih untuk istirahat terlebih dahulu. Tapi, setelah suami bersama rombongan beranjak dari pondokan beberapa saat, saya baru sadar bahwa saya sesungguhnya tidak punya banyak waktu, karena tanggal-tanggal pertengahan adalah tanggal yang rawan untuk saya kedatangan ’tamu istimewa’. ”Wah-wah... gimana kalo si ’tamu’ besok dateng, dan saya belum sempat umroh...” pikir saya. Heueu, seketika kekhawatiran berubah menjadi kekuatan. Saya pun langsung menghambur ke luar ruangan, tanpa persiapan berarti saya meluncur ke lantai dasar, celengak celinguk mencari kafilah pertama kloter 57 yang beberapa menit yang lalu berangkat menuju masjidil harom.
Di teras pondokan sudah sepi. Ada rasa khawatir menghampiri karena saat itu saya sendiri. Tapi, kekuatan mendorong saya bergerak ke luar pagar, di tepi jalan saya mendengar gemuruh manusia yang bertalbiyah, itu dia! Saya pun menggabungkan diri. Sambil berjalan, saya mencari satu sosok di dalam keremangan; suami tercinta. Saya pun berlari mendekatinya. Dia terkejut. ”Ummi khawatir keburu dapet ’tamu’ yah, jadi ummi ikut ke masjidil harom malem ini bareng ayah, gapapa ya yang?” saya pun menjelaskan tanpa menunggu pertanyaan meluncur darinya. Ia tersenyum. Kami pun berjalanan beriringan sambil bertalbiyah. Selebihnya, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Keharuan tak dapat saya sembunyikan. Rasanya seperti mimpi. Ya Allah, terimakasih... bisik saya.
Perjalanan dari maktab menuju masjidil Harom jika ditempuh dengan jalan kaki, membutuhkan waktu sekitar 30 menit kurang lebih. Kelelahan yang mendera menghilang entah kemana. Begini memang rasanya kalo sudah jatuh cinta. Setelah menyusuri jalanan al-Manshur , kami belok ke arah kiri menyusuri jalan utama Ummul Qura Road. Kehidupan malam di tanah suci ramai. Kami tak pernah merasa sedang berjalan di malam buta.
Beberapa kafilah dari Afrika, juga dari Cina berpapasan dengan kami, mereka bernasib sama dengan kami malam itu, berjalan kaki. Ada yang menuju ada juga yang ke arah berlawanan untuk pulang. Saat melewati jalan layang, saya melihat bangunan megah dan indah dihadapan mata. Bangunan dengan menara-menara besar nan gagah. Seperti kristal yang berdiri kokoh. Hiruk pikuk manusia terlihat di sekitarnya. Masya Allah, Allahu Akbar! Masjidil Harom!!... Saat itu barulah saya merasa lemas... Lemas karena jatuh cinta pada pandangan pertama, love at the first sight. Butiran-butiran air pun berhamburan keluar dari sudut mata. Hiks, akhirnya kami datang memenuhi panggilanMu ya Rabb... terimalah kami, terimalah ibadah kami, ampunilah kami wahai Dzat yang Maha Gagah.
Ka’bah Musyarrafah Itu
Perlahan kaki menginjak pelataran masjid yang luas, dan dingin. Saat itu kami memisahkan diri dari rombongan. Berusaha mencari sendiri dimana Babussalam sebagai pintu yang disunnahkan untuk dimasuki saat melaksanakan umrah. Saya berkeliling sampai pusing. Ada sekitar 80 pintu masjidil Harom, darimana mulai mencarinya?. Akhirnya, berbekal modah bahasa Arab seadanya, saya bertanya kepada khadim cleaning service masjidil Harom. ”Assalamu’alaykum, akhi...aina baabussalaam?”, tanya saya. Mula-mula saya bertanya kepada seorang cleaning service berwajah india. Dia menggeleng-gelengkan kepala, tanda tak mengerti. Rupanya ia TKB, Tenaga Kerja Bangladesh, yang dikontrak hanya untuk 3 bulan saja menjadi cleaning service masjidil Harom. Mm, pantas saja…
Berikutnya, saya bertanya kepada khadim cleaning service berwajah Arab. Dia menjawab sekenanya sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ”Hunaak!” katanya. Yang berarti; disana. Ya, petunjuk berikutnya, adalah saya harus menuju ke arah ’sana’ yang ditunjukkan oleh si khadim. Masih rabun.
Meski tertulis babul malik fahd, babul fath, babul umroh dan bab-bab lainnya, saya menahan diri untuk masuk. Saya ingin masuk lewat babussalam seperti yang disunnahkan dalam hadits-hadits shohih.
Karena belum kami temukan juga, akhirnya saya melemparkan tanya bukan lagi kepada khadim cleaning service, melainkan kepada askar. Setelah melontarkan pertanyaan yang isinya kurang lebih sama ’aina baabussalaam yaa akhiyyul kirom?’ dia pun meminta kami menuruni eskalator. Rupanya babussalam terletak di lantai paling bawah di area masjidil Harom. Untuk memasukinya, kita harus menuruni anak tangga atau eskalator. Di bawah sana, terdapat setidaknya 3 pintu besar yang terbuka lebar. Itulah babussalam yang saya cari. Babussalam menempel di area Mas’a (tempat sa’i). Babussalam adalah pintu ke 24. Tapi jangan harap ada papan besar menempel yang menerakan angka 24 atau tulisan BABUSSALAM. Tidak ada sama sekali. Saat menuruni tangga saya sampai menanyakan kembali ”Hal hadza babussalam?” setelah mendapatkan jawaban ”na’am”, barulah saya betul-betul yakin. Jaraknya ternyata hanya beberapa puluh meter saja dari Bukit Shofa. Itu berarti beberapa ratus meter dari pintu terdekat dimana saya pertama kali datang ke masjidil Harom. Pantaslah saya kebingungan mencarinya. Karena saya telah salah arah saat memulai pencarian. Saya yang saat pertama kali datang menemukan masjidil Harom persis di depan pintu 79, malah berputar ke kiri menuju pintu 78-77-76-75-74-dst. Seharusnya, jalan yang saya ambil ke arah kanan, menuju pintu 1-2-3-dst. Sehingga saya tidak perlu berputar terlalu jauh. Tak apalah, namanya juga pengalaman pertama. Nyasar mah biasa...saya berapologi. Hehe.
Setelah kami masuk lalu menaiki tangga terlihatlah Ka’bah Musyarrafah untuk pertama kalinya. Dadapun bergemuruh hebat.
”Ya Rahman, sampai juga hamba disini. Di rumahMu yang mulia. Di rumahMu yang penuh keagungan.”
”Allahumma zid hadzal bayta tasyriifan wa ta’dziiman wa takriiman wa mahaabatan. Wa zid man syarrafahu, wa karamahu, mimman hajjahu awi’tamarahu tasyriifan wa ta’dziiman, wa takriiman wa birran”
Subhanallaah! Allahu Akbar!.
Kami pun melebur, menjadi salah satu titik dari gelombang manusia yang bertasbih, bertahlil memusar mengitari ka’bah. Menjadi ombak yang memecah keangkuhan. Saya merasa kerdil di bawah tatapanNya. Menjadi planet, meteor yang berputar mengelilingi matahari. Ya! Ka’bahlah matahari itu. Ka’bahlah poros perlambang ketaatan. Manusia-manusia, tak peduli kaya ataukah miskin; pejabat ataukah rakyat; kulit hitam, putih, merah, sawo matang bahkan sawo busuk sekalipun; semuanya berdesakan untuk thowaf mengelilingi ka’bah. Tenggelam dalam kerinduan yang sama, semuanya menyatu dalam satu komitmen; taat kepadaNya.
Di tengah lautan manusia itu, saya terus berkontemplasi. Merenungi segala hal yang menggasing di kepala. Tentang perjalanan hidup yang saya tempuh selama ini, tentang segala kekhilafah diri dan tentang hari pertanggungjawaban. Ya Allah Rabbii, ampunilah hamba...Ampunilah segala kesalahan hamba... Wa tawaffana ma’al abraar. Engkau Maha Penerima Taubat!
Tercekat.
Pukul 4 subuh waktu Makkah, adzan berkumandang. Rupanya adzan awal. Pengalaman pertamakali mendengarkan adzan masjidil Harom sangat luar biasa. Sekujur tubuh rasanya menggigil. Adzan yang selama ini saya dengarkan dari radio atau tipi, bahkan laptop setiap kali waktu sholat tiba, saat saya asyik memijiti tuts keyboard, kini saya dengar langsung. Live!. Entahlah, mungkin saya terlalu hiperbolis, melebih-lebihkan. Tapi seperti itulah yang saya rasakan. Saya merasakan bahagia yang luar biasa berada di tempat yang penuh sejarah ini. Dirumah Allah, yang pernah dihuni manusia-manusia mulia; Nabi Ibrahim dan Ismail saat membangun ka’bah; kekuatan istrinya Hajar saat ditinggal pergi Ibrahim di tengah gurun yang panas, tanpa bekal; gigihnya Rasul Muhammad Saw saat berdakwah memecah keangkuhan kaum Quraisy agar beriman kepada Allah; pembelaan sahabat Abu Bakar Shiddiq ra, pengorbanan Khadijah ra, dan lain-lain.
Sekali lagi, saya sangat bahagia bisa berada di dalam masjid yang menjanjikan rupa-rupa kebaikan. Berada di dalam masjid yang menjadi tempat para Imam besar memimpin sholat. Para Imam, yang selama ini murattalnya saya dengar melalui kaset atau MP3. Sudais! Ya Imam Sudais salah satu favorit saya, yang ternyata menjadi salah satu Imam masjidil Harom. Mendengarnya melantunkan ayat-ayat Allah saat sholat, praktis melelehkan air di kedua sudut mata.
Sholat mayit pun lima waktu sehari
Pukul 5.15 subuh waktu makkah, barulah adzan subuh berkumandang. Kami pun shalat berjamaah, berjejalan.
Selesai sholat subuh, terdengar suara mengkomando ”Assholaatu ’alal amwaat yarhamukumullaah!” panggilan untuk melaksanakan sholat mayit. Di masjidil harom hampir tidak ada waktu sholat fardhu yang tidak diiringi sholat mayit. Pernah satu ketika saya sholat di dekat bukit Shofa, kebetulan babushshofa adalah tempat keluar masuknya jenazah, juga Imam dan timnya. Selesai melaksanakan sholat fardhu juga shalat jenazah, saya pun menunggu saat-saat jenazah dibawa keluar masjid. Saya menghitungnya, 12 jenazah. Di kesempatan yang lain, 8 jenazah. Pernah juga 20 jenazah.
Dari cerita yang saya dengar, jenazah tersebut selain jamaah haji, juga warga sekitar masjidil Harom yang sholeh. Tidak jarang juga yang kami sholatkan adalah jenazah anak kecil. Biasanya yang mengkomando, menambahkan dengan ”Ashsholaat ’alaththifli...”. Selepas disholatkan mayit-mayit ini dikuburkan di Pekuburan Ma’la, yang berlokasi di jalan Sulaimaniyah.Di kuburan itu pula, konon dimakamkan ibunda Khadijah ra, dan putra Nabi Saw, Ibrahim dan Qosim.
Saya jadi ingat, saat Rasulullah Saw menguburkan anaknya Ibrahim. Rasul –sesaat sebelum meletakkan jenazahnya di liang lahat- berkata kepada anak kecil yang menutup usianya di bulan ke-16 setelah kelahiran :
”Wahai Ibrahim anakku, jika malaikat datang kepada engkau, katakanlah kepada mereka ’Allah Rabbku, Rasulullah ayahku dan Islam agamaku”
Tiba-tiba terdengar isak tangis Umar bin Khattab di belakang Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah bertanya kepada Umar;
”Mengapa engkau menangis wahai sahabatku?”
Umar lalu menjawab;
”Wahai Rasulullah, putramu belum lagi menginjak akil baligh dan amalnya belum dicatat, sehingga ia tak perlu dibacakan talqin. Lalu bagaimana dengan nasib Ibnul Khattab ini yang sudah melewati akil baligh dan dicatat amal perbuatannya oleh malaikat, padahal ia belum tentu menemukan juru talqin seperti engkau ya Rasulullah!”. Peristiwa ini menjadi asbabun nuzul (sebab turunnya) QS. Ibrahim : 27, dimana Allah menjawab kegundahan Umar dengan firmanNya :
”.......................
Di Maqom Ibrahim
Dalam pelaksanaan Umroh, melaksanakan sholat 2 rakaat di maqom Ibrahim seusai thawaf qudum merupakan salah satu rukun. Ada hal yang unpredictable saat saya dan suami hendak melaksanakan shalat di belakang bekas tempat berdirinya Nabi Ibrahim saat membangun ka’bah tersebut. Saat kami bersiap melakukan takbiratul ihram, tiba-tiba kami dibentak seorang khadim masjid yang menggunakan jubah dan sorban. Dia menyuruh kami menyingkir dari tempat kami berdiri. Kami bergeming.
Apa salah kami, toh kami hanya mau melaksanakan salah satu rukun umroh? Pikir saya. Saat dia memelototi kami, saya pun angkat bicara dengan bahasa Arab seadanya (lagi-lagi seadanya, ya emang modalnya pas-pasan mau gimana lagi?) yang artinya kurang lebih begini ”Syaikh, kami hanya ingin sholat 2 rakaat di maqom Ibrahim ba’da thawaf qudum”. Lalu dia menjawab, yang kurang lebih begini ”Sana! Sholatnya disana! Jangan terlalu dekat maqom Ibrahim karena banyak orang yang thawaf”. Kami pun mengalah dan beringsut menjauhi maqom Ibrahim.
Hari masih gelap. Matahari rupanya masih enggan menampakkan diri. Pukul 06.15 pagi langit Makkah masih kelabu. Masih ada 2 prosesi lagi yang belum dijalani; sa’i dan tahallul. Kami pun menuju bukit shofa untuk memulai sa’i. Selesai berjalan 7 kali antara bukit shofa dan marwah, kami mentaqsir (menggunting sedikit) rambut menandakan bahwa kami telah tahallul, semua larangan ihrom menjadi halal kembali, seperti memakai pakaian biasa (untuk laki-laki), menggunakan wewangian, memotong kuku, dll.
Perjalanan umroh di hari pertama, kami akhiri dengan makan nasi kebuli dan ayam goreng khas Arab yang kami beli di sebrang pelataran masjidil Harom dekat Intercontinental Daarut Tauhid, salah satu hotel bintang lima yang paling dekat dengan masjidil Harom. Nasi kebuli yang aroma kapulaga dan cengkehnya amat menyengat itu terasa nikmat di lidah. Dalam waktu singkat, nasi yang harganya 10 real itu pun ludes. Setelah itu kami berfoto-foto dan melihat sekeliling sebentar. Jam 10 pagi, barulah kami pulang, berjalan gontai ke pondokan. Kelelahan.
Seven Stars
Jum’at siang, jamaah yang belum melaksanakan ibadah umroh sebetulnya telah siap melaksanakan umroh. Namun rupanya keinginan kuat untuk umroh tersebut harus disimpan terlebih dahulu, karena ada pengumuman, bahwa pelaksanaan umroh gelombang kedua baru akan dilaksanakan dini hari berikutnya. Sebagian besar jamaah itupun gigit jari.
Sabtu dini hari, sekitar pukul 1.30, jamaah yang belum umroh, bersiap berangkat ke masjidil harom. Meski sudah melaksanakan umroh, saya tetap ikut. Kali ini tujuan saya ke masjidil harom adalah menemani salah seorang ibu sepuh yang kebetulan satu regu dengan saya; bu Yayah namanya. Ohya, dalam satu regu, kami berbagi tim. Mengantisipasi kemungkinan tersesat (terutama untuk jamaah yang sudah sepuh), maka ketua regu berinisiatif untuk memasangkan anggotanya, sehingga dalam pelaksanaan ibadah umroh dan haji, ada pihak-pihak yang diberi tanggung jawab untuk ’mengawal’ jamaah-jamaah yang sepuh. Nah, saya sendiri diberi amanah untuk ’mengawal’ Bu Yayah salah satunya.
Bu Yayah adalah salah satu jama’ah haji asal Bogor, sama seperti saya. Sosoknya luar biasa. Tenang tapi humoris. Rasa-rasanya sepanjang saya berinteraksi dengannya, belum pernah saya mendengarkannya berkeluh kesah. Usianya diatas 72 tahun. Namun beberapa kali saya menemaninya saat berjalan jauh, tidak pernah sedikitpun ia mengeluh capek. Saya satu kamar dengannya. Di kamar kami bertujuh. Seven Stars, begitu saya menyebutnya. Selain saya dan Bu Yayah, ada Bu Maryam, Ketua PD Persistri Bogor yang humoris; Bu Netti yang baik hati, Bu Marpuah yang lucu; Bu Oting yang pembelajar; dan Mba Ria yang semangat luar biasa. Kami solid dan kompak. Pertama kali menghuni kamar, kami bersepakat untuk senantiasa saling mengingatkan, saling membantu dan tidak berkata-kata kecuali untuk hal-hal yang baik. Yang saya suka adalah, mereka lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca al-qur’an atau beristirahat, daripada banyak mengobrol yang tidak jelas.
....
Nenek Pakistan Murah Senyum
Berada di haram, rasanya tak kenal lelah. Ka’bah terlalu sayang untuk dilewatkan... keinginan yang kuat untuk selalu ’menatapnya’, thawaf mengelilinginya sungguh tak bisa dibendung.
Inilah yang menjadi alasan, mengapa di sabtu (14/11/2009) sore itu, saya dan beberapa orang anggota rombongan kembali ke masjidil harom. Saat itu, saya, suami, mba Ria, Bu Oting dan Mak Enih memutuskan untuk sholat Ashar, Maghrib dan Isya di Masjidil Harom.
Seperti biasanya, di mulut babul fahd (pintu 79), suami memisahkan diri untuk mencari tempat di area dekat ka’bah. Pintu 79 itu, menjadi tempat janjian untuk kembali bertemu saat nanti kami akan kembali ke pondokkan, ba’da Isya. Saya sendiri bersama yang lain mencari tempat di area nisa. Kali ini kami memutuskan untuk mencari tempat sholat di area (lurusan) multazam. Sudah diduga sebelumnya, area multazam penuh sesak. Namun tak menyurutkan langkah kami untuk mencari celah tempat kosong. Benarlah! Tak lama berselang, saya melihat ada area cukup lengang di dekat tempat petugas kebersihan nisa. Saya lihat disana, ada seorang petugas nisa yang tengah membereskan perlengkapan kerjanya. Tubuhnya bulat mungil, bercadar dan cantik, matanya lentik. Kami pun menghampirinya, dan menyapanya,
”Assalamu’alaykum ukhti, ana min induunisiy...”
”ooh, sayang.... tafadhol!” ia mengerti apa yang saya maksud, dan memberikan sedikit ruang untuk tempat kami duduk.
”syukron ukhti, anda baik...” kami berterimakasih padanya
”bisa berbicara bahasa indonesia?” tanya saya...
“laa..” katanya. “lughatal ‘arabiyyah faqot” ia menegaskan.
“wa lakin... sayang? ‘arafta maa ma’na sayang? Hehe” tanya saya...
Ia pun tersenyum...
Meski sempit, kami duduk serasa di tempat yang lapang, tuma’ninah sekali...Sambil menunggu waktu sholat, ayat-ayat al-Qur’an pun kami tekuri, ayat demi ayat, surat demi surat. Setelah merasa agak pegal, saya melemparkan pandangan ke arah sekeliling. Ternyata, sedari tadi seorang nenek tua, hidung mancung, berkacamata agak gelap terus memperhatikan saya dengan seksama. Saat saya mengarahkan pandangan padanya, ia tersenyum. Awalnya sih, agak celingukkan. Khawatirnya, ia tersenyum bukan pada saya (saya tidak bisa memastikan ia tersenyum untuk siapa, karena sorot matanya tertutupi kacamata hitam yang dipakainya).
Lalu, saya menganggukkan kepala, ia balas menganggukkan kepala, dan mengelus pundak saya. Saya pun yakin bahwa sedari tadi ia memperhatikan saya. Ia menunjuk-nunjukkan jemarinya ke arah al-Qur’an mungil berwarna coklat yang saya pegang. Mungkin maksudnya, “ayo terusin!”... mungkin...hehe.
Tapi, saat itu, saya memilih untuk membuka dialog dengannya... setelah mengucapkan salam dan mengulurkan tangan untuk menyalaminya, saya bertanya “min aina?”...
Ia menjawab dengan bahasa yang sama sekali tidak saya mengerti... saya lihat pergelangan tangannya : gelang berwarna kuning yang berarti Asia Selatan.
“India ?? Hind??” tanya saya.
“Pakistan” jawabnya...
“Ooo... Subhanallah! Pakistan...Ana Indonesia” saya menyahut sambil menepuk-nepuk lututnya yang beradu dengan lutut saya.
Sepanjang saya duduk didekatnya, nenek tua cantik yang tak pernah menyebut namanya -meski berulang saya tanya “masmuki?”, “whats your name?” - itu, banyak bercerita. Tentu saja dengan bahasa Pakistan yang saya sama sekali tidak mengerti. Saya tetap meresponnya, meski hanya sekedar mengangguk atau sekedar mengucapkan “subhanallah” dan “barakallah” saja.
Air mukanya, menyiratkan bahagia luar biasa. Senyumnya selalu tersungging, dan sesekali ia menyebut kata “Indonesia”, sambil menepuk bahu saya. Disela perbincangannya yang sebetulnya tak pernah saya mengerti, saya menyelanya dengan membacakan salah satu ayat al-Qur’an surat al-Hujurat:10 “Innamal mukminuuna ikhwatun”, lalu dengan bahasa tubuh, saya jelaskan “anti muslimah, ana muslimah... Nahnu Ikhwah, We are Sisters in Islam” sambil mencantolkan 2 jari telunjuk.
“Ekh...” ia mengangguk, tanda mengerti. Tak lama kemudian, ia berpamitan. Dua pipi saya pun dikecupnya... “Ilalliqoo ma’assalaamah!, nice to meet you madame” ujar saya.
Teh Euis dan Roti Isi Ikan Tuna
Hari masih sore. Jam di dinding Masjidil harom masih menunjukkan pukul 4.45 sore waktu makkah. Masih 45 menit kurang lebih menuju maghrib. Kami masih belum beranjak dari tempat duduk dekat alat-alat khadimat kebersihan nisa tadi. Tiba-tiba datang seorang perempuan ke tempat kami untuk menitipkan barang-barang bawaannya. Pakaian serba hitam dan cadar yang dikenakannya, membuat kami tak bisa mengenalinya. Setelah ia memperkenalkan dirinya, barulah kami tahu bahwa ia seorang TKW. Teh Euis, begitu kami menyebutnya. Teh Euis asli orang Sukabumi, yang telah 9 tahun berkhidmat kepada seorang majikan perempuan yang usianya telah udzur, di Jeddah. Setiap musim haji, ia menemani sang majikan untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah sambil membagi-bagikan hadiah untuk musafiriin. Seperti sore ini, teh Euis didaulat untuk membagi-bagikan roti, minuman hangat, minuman kaleng, kue dan kurma.
Tak pelak, kami –yang juga ikut sibuk membagikan- mendapatkan bagian cukup banyak dari teh Euis. Saya, Bu Oting, Ma Enih dan Mba Ria masing-masing mendapatkan roti isi ikan tuna pedas, minuman kaleng, teh manis jahe panas dan sebungkus kurma yang lezaaaatt.
”Teh Euis yang bikin ya? Enak banget roti-nya teh... oriental bangeett” goda saya. ”Teh jahe-nya juga, segerr” bu Oting menambahkan. Teh Euis, hanya senyam senyum ”Alhamdulillah...” ujarnya. Allahumma, terimakasih ya Allah, karena sesungguhnya kami memang sedang laparrr J.
Sambil menyantap makanan, kami berbincang dengan teh euis, yang ternyata sudah memiliki 7 orang cucu di kampungnya. Padahal usianya belumlah 40 tahun. Ia menunjukkan semua foto family-nya yang ia tinggalkan di sukabumi,- yang ia simpan baik-baik di HPnya-. Beruntung ia berkhidmat pada seorang ibu tua yang baik di Jeddah. Teh Euis menuturkan suka dukanya bekerja sebagai TKW. Saya melihat, sorot matanya menyiratkan kerinduan mendalam untuk berjumpa dengan sanak keluarga di kampung halaman.
”Apa boleh buat ya teh, terdesak kebutuhan...” ujarnya, tercekat. ”Alhamdulillah, majikan saya mah baiiik banget. Suaminya sudah meninggal, dia hidup sekarang teh sendirian, makanya saya mah suka kasian”. Teh Euis menjelaskan. ”Anak-anaknya udah pindah rumah, punya rumah sendiri”.
”Teh, kan banyak cerita tuh, ada TKW yang suka diusilin sama majikan laki-lakinya, bener ngga sih itu teh?” saya bertanya penasaran.
”yaa, ada aja sih teh...” jawab teh Euis. ”Disini kan kehidupannya keras teh, kadang ngga ada sopan santunnya juga, ah... kalo ngga kuat-kuat amat mah da’... cape hate. Cuman enaknya, ya kalo udah musim haji begini. Bisa hajian, ketemu orang Indonesia, seneng” ia menambahkan.
”Iya atuh teh Euis, jangan lama-lama jadi TKWnya, cepet pulang, kasian keluarga” saya memberikan saran.
Kami pun bertukar no HP, siapa tau bisa berjumpa kembali di kesempatan yang lain...
Adzan maghrib berkumandang. Kami sholat berdesakkan, tapi nikmat terasa. Terlebih, imam membacakan ayat demi ayat al-Qur’an dengan syahdu. Tak terasa air mata kembali mengalir...
Bada maghrib, kekisruhan sedikit terjadi. Salah seorang jamaah perempuan, entah asal mana yang pasti berwajah Arab, bertubuh besar, tanpa permisi membentangkan sajadahnya di tempat sujud kami. Teh Euis yang saat itu masih di dekat kami, langsung menyemprotnya. Adu mulut pun terjadi. Saya tidak terlalu paham apa yang disampaikan teh Euis, karena ia berbicara bahasa Arab dengan tempo yang cepat sekali. Terlihat sekali raut wajah teh Euis tidak suka... ”tuman teh...” kata teh Euis dengan logat Sukabuminya, yang maksudnya kurang lebih ”keenakan kalo dibiarin aja”. ”Udah tau, ada orangnya masih juga nyerobot” ujarnya. ”Biarin aja deh teh Euis, biar kita aja yang pindah...gapapa kok” saya meyakinkannya, setelah bersepakat dengan teman-teman yang lain untuk mencari tempat lain saja, daripada jadi masalah. Akhirnya, kami pun beranjak dan berpisah dengan teh Euis..”Makasih roti ikan tunanya yang enak ya teh Euis, mudah-mudahan ada kesempatan ketemu lagi”... kami pun berpisah...
Senyum-Senyum Tulus Itu
Belum genap 3 hari kami di Makkah. Masjidil Harom pun masih belum sepenuhnya kami pahami petanya. Setelah berpisah dengan teh Euis, kami berjalan perlahan menuju bagian tengah masjid. Mencari peruntungan, berharap mendapatkan tempat yang agak longgar disana. Siapa tau?.
Ada!... kami pun berusaha menuju salah satu shaf yang terlihat agak longgar. Betapa terkejutnya, saat kami meminta izin kepada jamaah yang tengah duduk mengobrol di tempat itu, untuk duduk di dekatnya, ia tidak mau, bahkan ia menyemprot kami dengan bahasa melayu... ”sudah penuh, tak boleh...carilah tempat lain!” judes. Hadoh, perasaan kita bilang baik-baik deh, kok balik membentak? plis deh!. Kami pun beringsut menjauh. ”Gitu amat ya?” ujar salah satu teman... Biarin aja deeh Innallaaha ma’ashshoobirin!
Kami pun terus berjalan. Dan tak jauh dari shaf orang melayu itu, saya lihat ada tempat yang agak longgar. Disamping kirinya orang India, dan di kanannya perempuan bertubuh besar sedang bersender di tiang masjid, sambil membaca al-Qur’an. Dengan bahasa Isyarat, saya meminta keikhlasan 2 perempuan India untuk berlapang-lapang. Awalnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya. O, ngga boleh kah? Namun, beberapa detik berselang, ia berubah pikiran. Bukan sekedar melapangkan tempat, tapi keduanya memberikan tempat duduknya untuk kami. Allah Maha Pembolak Balik Hati. Alhamdulillah... ”Syukran ukhti...thank you, barakallah!” kami menjabat tangannya. Merekapun tersenyum dan meninggalkan kami.
Setelah duduk di tempat kami yang baru, kami pun merapikan shaf, dan mengisi waktu menunggu waktu Isya tiba. Tidak seperti di tanah air, jarak waktu antara sholat maghrib dan Isya di haram agak panjang, sekitar 1,5 jam. Seperti biasa saya melemparkan pandangan ke sekeliling. Di sebelah kanan saya, yang sedari tadi membaca al-Qur’an, tersenyum. Kami pun bersalaman. ”Assalamu’alaykum, Fathimah, Maghribiy” ujarnya. ”Ooh, ana min Induunisiy, hadzihi shaahibatiy” saya memperkenalkan diri dan memperkenalkan teman-teman padanya. Ibu Fathimah yang ramah, ia dari Maroko. Kami berbincang cukup lama. Salah satu yang ia tanyakan, berapa jam perjalanan yang ditempuh dari Indonesia ke Makkah? Saya pun menjelaskan dengan bahasa Arab sekenanya.
”2 sa’ah min baytii ilaa airport, tsumma 10 saa’ah min airport ila jeddah biththooiroh, tsumma 2 saa’ah min Jeddah ila Makkatal Mukarramah bil Bus...”
”Indonesia ba’iid (jauh)” ujarnya.
”emang...” timpal saya, hehehe....
-005.jpg)
2 komentar:
Subhaanallaah...experiencenya bagus sekali mba'....ana membacanya sampai terharu...,ana bisa membayangkannya..,smoga kelak ana diberi-Nya kesempatan utk ke Haramain..
barakallaah...
terima kasih mba, yassarallah umuuraki! just believe that the dream will come true... :) bagi Alloh, tidak ada hal yang tidak mungkin... :)
Posting Komentar