Semoga tidak ada yang keberatan, buku -yang sedang ada di tangan bapak/ibu/sahabat sekarang ini- kami beri nama BUCIL HAJI (Buku Kecil Haji). Entahlah, padahal ukurannya tidaklah kecil, tapi daripada kami beri nama buku saku, kan lebih repot lagi, hehe...
Oya,
Pertama kali kami berucap syukur Alhamdulillah kepada Allah Rabbul ’Izzati, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Qadir, yang telah memberikan karunia Iman dan Islam kepada kami, dan yang telah memberikan kami kesempatan menjadi tamu-Nya. Meski panggilan itu saat ini masih terdengar sayup, namun dengan penuh kelemahan, hingga detik ini kami tak henti berharap, semoga kian hari, panggilanNya terdengar semakin kencang... dan kami pun betul-betul menjadi tamuNya yang terpanggil di Dzulhijjah 1430 H.
Amiiin (mohon diaminkan juga ya... J)
Tak lupa,
Kami pun menghaturkan shalawat bagi baginda tercinta Rasulullah Muhammad SAW. Manusia pilihan. Manusia teladan. Satu-satunya manusia yang patut kita cintai.
Yaa Rasulullah, betapa rindu kami padamu... betapa besar ingin kami berjumpa denganmu, betapa kuat hasrat kami berkunjung ke tempat-tempat yang menjadi saksi bisu perjuanganmu, menjejakan kaki di masjidmu, duduk di depan mihrab dimana engkau sering berdiri untuk menjelaskan syari’atNya yang agung, serta mentafakuri tempat-tempat dimana engkau dan para shahabat memperjuangkan Islam hingga menang. Ah, luar biasa!
(Ya Allah, kami mohon dengan sangat, berilah kami kesempatan itu...)
Tentang buku ini,
Entah bagaimana kami harus melukiskan kebahagiaan yang dirasa, tatkala kemudahan demi kemudahan dalam persiapan penyusunan buku ini diberikanNya pada kami. Subhanallah, sungguh Dialah Allah SWT yang telah membuat segalanya menjadi mudah setelah sempit. Ya, ”Inna ma’al ’ushri yusroo”, dalam kesulitan pastilah ada kemudahan. Dan hal itu pulalah yang kami rasakan.
Terus terang saja, sejak awal kami memang punya itikad kuat untuk membuat buku sebagai buah tangan. Buku yang berisi pengalaman, curhatan dan sedikit tuntunan praktis ibadah haji hasil belajar sana-sini. Dalam bayangan dan ingin kami, bucil ini dicetak layak dan bagus, dengan cover full color dan foto manis kami sekeluarga (hehe, dasar narsis ya?), menggunakan art paper dan disain yang eye catching...
Byaarr! Tapi kemudian, rencana itu sempat buyar...dan tersendat saat kami menimbang-nimbang bea cetaknya.
Puffhh, saya jadi ingat...
Saat itu, saya sempat mengurungkan niat, dan memutuskan untuk melihat sikon. ”Jika ada rezeki...lanjut, tapi jika tidak ada, ya apa mau dikata?” pikir saya. Toh menerbitkan buku bukan rukun ataupun syarat haji. Betul betul betul? Hukumnya tidak wajib, malah sunnah pun tidak. Sama halnya seperti walimatussafar. Andaikata ada rezeki, Alhamdulillah, Insya Allah mendapat pahala silaturahmi dan shodaqoh. Tapi ketika tidak ada dana ya tidak usah memaksakan diri bukan? Hukumnya kan ngga wajib. Apalagi sampe ngutang sana sini atau minta sama keluarga... wah, ngga banget deh...hehe. Yang terpenting kan memohon maaf, menghalalkan kekhilafan dan minta do’anya.
Dalam kegalauan yang sempat mendera (karena kuatnya keinginan untuk menulis) saya terus memutar otak... ”ya Allah, meski tak sesuai rencana, saya tetap ingin membuat buku untuk buah tangan”... Dan saya pun berpikir keras mencari cara, gimana supaya bucil ini tetap bisa keluar tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam. Saya pun membincangkannya dengan suami, untunglah ide masih berseliweran di dalam benak, hingga terkelebat satu pikir untuk menerbitkan alakadarnya saja (tanpa berniat memaksakan diri). Ya, alakadarnya!... Akhirnya kami pun sepakat, buku ini diperbanyak dengan fotocopy, dan cover kita pesan, tapi tentu saja cover buku yang sederhana, satu warna dan dengan jumlah yang terbatas.
Itulah rencana final kami.
Akhirnya, suami menelpon seorang ahli disain, yang tiada lain adalah salah seorang sahabat sekaligus partner bisnis kantornya; ustadz Senyumadvertising!. Kami pun mengungkapkan rencana, mengimelkan konten dan membincangkan disain kepadanya. Diluar dugaan, ustadz Senyumadvertising mengungkapkan kepada suami, jikalau cover yang kami pesan besar kemungkinan dicetak full color. Karena beliau kebetulan tengah mengerjakan pesanan untuk full color, jadi bisa sekalian ’nebeng’ ceritanya. ”Wah...boleh juga” pikir saya. Tapi, apa harganya jadi naek ya?...wuih, musti siap-siap nih, bisik hati saya.
Dua hari berselang. Lalu sampailah sebuah pesan dari suami pada saya, bahwa cover buku sudah jadi, dan bisa diambil secepatnya. Keesokan harinya, saya pun mengambilnya, dan surprise! Allah mengabulkan keinginan saya di awal, full color!! Alhamdulillah...
Tak lama, suami mengontak ustadz Senyum via SMS, menanyakan berapa rupiah yang harus kami transfer padanya...1 hari...2 hari berlalu namun SMS kami belum jua dibalasnya. 3 hari kemudian, barulah SMS itu mendapatkan respon. Dan tahukah apa jawaban ustadz Senyum yang baik hati itu? : FREE. Gratiss... Allahu Akbar! Allahu Ghaniy!! Kurang lebih 600 eksemplar cover full color diberikan untuk kami secara Cuma-Cuma. Syukron ustadz! Jazakumullah khairan katsiiran. Semoga Allah menggantinya dengan rezeki yang melimpah dan pahala yang banyak. Allah Maha Mendengar keinginan hambanya! Lagi-lagi perhitungan saya dan perhitunganNya tak sejalan. Ah, speechless jadinya teh...
Tapi jauh dari itu semua, sebetulnya tujuan dan niat kami membuat bucil ini tidak lain adalah sebagai wasilah supaya kami lebih bisa berterimakasih dan memohon maaf kepada berbagai pihak. Ada hal yang ingin kami bagi, juga menjadi alasan penting betapa kami ingin menuliskan beberapa hal terkait pengalaman dan ilmu yang kami kumpulkan. Intinya sih, write for share kali ya? J Siapa tau tulisan kami menginspirasi. Siapa tau ilmu-ilmu yang kami tulis ulang dan kami rujuk dari berbagai sumber yang sangat bisa dipercaya dapat menjadi amal jariyah...amiin.
Terlalu banyak pihak yang telah membuat segalanya menjadi mudah dan ringan, tentu saja kami tak bisa menyebutkannya satu persatu. Kedua orangtua di Bandung dan Kuningan, tentu saja. Berkat do’a dan dukungannya yang terus mengalir ke Bogor, kami selalu merasa bisa... ya, sebuah jaminan pasti Allah mengabulkan do’a-do’a mereka. Keluarga yang full spirit dan support... We Love You Full!... Dan tentu saja, pihak yang sudah siap menampung kerepotan dititipi aa-teteh saat kami berangkat nanti. Dengan apa kami harus membalas?... Hanya Allah lah sebaik-baik pembalas.
Tolong maafkan jika kami pernah menorehkan luka, berbuat kurang pantas atau tidak sopan, berkata menyakitkan dan kurang ahsan. Mohon dihalalkan jika pernah ada benda (apapun bentuknya) yang kami gunakan tanpa izin. Untuk guru-guru tercinta, terimakasih atas semua yang telah diberikan. mohon maaf jika pernah menorehkan luka... Semoga kebaikan guru-guru sekalian dibalas dengan kebaikanNya yang tiada terkira. Amiin.
Satu lagi,
Kami berharap, buku ini menjadi buah tangan yang berbekas. Semoga bucil ini menjadi kenangan manis untuk bapak/ibu/sahabat sekalian... Siapa tau kami tak kembali... ya, siapa tau?
Tapi tentu kami pun sangat sadar sesadarnya, bahwa tulisan dalam bucil ini bukanlah karya yang patut dibanggakan (ya, toh niat kami bukanlah itu). Mohon maaf jika ditemui banyak kesalahan dan kekurangan. Akhirnya, hanya kepada Allah lah kami memohon perlindungan. Nastaghfirullaahal’adhiim...
Yuli-Dadang
Kamis, 08 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-005.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar